Search This Blog

Thursday, February 24, 2011

Senyumlah walaupun kita ada masalah


Salam...
Waaa....aku rasa hidup aku ni sudah dibebankan satu masalah yang agak la berat.
Maybe aku ni suka mencari masalah kot...kot ye kot :D

Tak taw la, nanti aku cerita panjang2 lebar pada esok harinya apa masalah aku.
Aku tak tahu la masalah aku berpunca dari aku or ujian dari Allah.
Mostly berpunca dari aku kot, sebab itu la Allah bagi ujian untuk kita cuba memperbaiki diri kita.

Walaupun kita difitnah, jangan sesekali kita berasa malu dengan kawan-kawan. Cuba dengan sekuat hati untuk melawan perasaan malu difitnah. Ceritakan masalah kita difitnah dengan kawan2 kita yang betul-betul boleh dipercayai...

Okie, nanti esok, aku akan ceritakan apa masalah aku yang menimpa..Tetapi! Aku tak nak cerita 100% full. Nanti ada yang terasa...huhu :D

Ingat, yang paling penting SENYUMlah kepada sesiapa sahaja walaupun kita dibebani dengan banyak masalah. Smile can make us and others happy!

Kerana senyuman itu akan membuatkan mereka sekalian bersangka baik dengan kita walaupun kita tengah panas hati! Yes!



Sunday, February 20, 2011

Cinta Sayyidina Ali dgn Sayyidah Fatimah Azzahra (Must Read)


Salam...

Story ni aku dapat dari Perdiqma, sangat best cerita ni untuk kepada sesiapa yang minat cerita-cerita islam. Aku tak alim mana pun, dah terjatuh cinta kat cerita ni...hak3

***********************************

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.Ia merasa diuji karenamerasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,

”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan. Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ””Aku?”, tanyanya tak yakin.”Ya. Engkau wahai saudaraku!””Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?””Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.

Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?””Entahlah..””Apa maksudmu?””Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.

Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4).

Wednesday, February 16, 2011

Cinta Facebook | iluvislam.com + discover the beauty of islam

Kata kakakku, "Ujian penuntut ilmu: Kewangan, malas, syahwat (rindu dan cinta), sahabat dan persekitaran."

Saya akui, sebagai penuntut ilmu atau mahasiswa, lima perkara tersebut merupakan masalah utama bagi setiap pelajar! Saya yakin anda mengakuinya juga.

Namun, bagi penuntut di Mesir, kewangan bukanlah masalah utama kerana wang zakat melimpah-ruah di sini. Negara kaya seperti Kuwait dan Brunei selalu memberikan sumbangan kepada mereka yang sedang berjihad ini.

Tetapi, empat masalah yang lain terus membelengu para penuntut.

Masalah ke-2, MALAS! Musim sejuk adalah musim yang paling agak malas di sini. Kerana mahasiswa agak selesa di sebalik selimut tanpa mandi berhari-hari.

Masalah ke-3, SYAHWAT! Ini yang ingin saya kupaskan. Insya Allah, semoga apa yang saya ingin sampaikan dapat difahami oleh anda sekalian.

Putik-putik Cinta di Facebook

Saya sebagai seorang pemuda, sering menerima pop-up chat dari orang yang tidak dikenali. Dan kebanyakanya daripada perempuan.

Adakah itu normal seperti yang diutarakan sahabat saya. Beliau bertanya di laman Facebook "says; is it normal, if wall perempuan mesti penuh dengan kawan lelaki, and vice versa?"

Apa pendapat anda?

Saya akui, saya sering 'jual mahal' dengan ajakan berborak melalu Facebook walaupun kadang-kadang tersungkur di tengah jalan. Kerana saya tekad untuk tidak chat sesuka hati bila saya sudah mempunyai orang yang saya berhajat denganya untuk melengkapkan iman saya.

Terutama bila sedang dalam menuntut ilmu, maka saya tidak mahu hidup saya terganggu dengan perkara-perkara yang termasuk dalam ikhtilat diluar syarie.

Bukan Cinta Jika Asasnya Facebook

Saya hairan bila mana ada orang merendahkan martabat cinta dengan menjualnya di Facebook. Dalam erti kata lain, "Saya boleh menerima cinta di Facebook".

Ini mungkin berlaku bila seseorang yang sudah putus cinta mengwar-warkan perasaan benci dan kesalnya terhadap cinta yang berputik terhadap seseorang. Status in relationship bertukar kepada single.

Lalu wujud seorang lelaki yang menawarkan diri untuk mendengar masalah wanita tersebut. Dan memberi pandangan hanya berdasarkan minda yang mengharapkan dosa pada masa akan datang. Ini padahnya bila meluahkan perasaan melalui Facebook.

Kadang-kadang bila yang memberikan pandangan berwajah kurang handsome, si wanita akan berkata, "Sibuk je nak tahu pasal orang". Namun bila mana yang menanyakan soalan agak handsome, dengan sendiri dia akan merendahkan martabat diri dengan membuka aib sendiri.

Sedarkah kalian bahawa WAJAH PROFILE FACEBOOK BOLEH DIMANIPULASI!

Nilai Harga Diri

Adakah begitu rendah martabat cinta kita terhadap orang yang harus dinikahi sehinggakan kita boleh bercinta sekadar melihat wajah seseorang di Facebook atau bermula dengan pop-up chat di Facebook?

Namun bila kita berjumpa, terkejut melihat wajahnya yang ternyata bukan pilihan hati kita. Terus cinta yang berputik di Facebook hilang begitu sahaja. Adakah itu cinta?

Banyak artikel yang menerangkan mengenai ikhtilat diluar syarie. Anda seorang yang berakal, maka nilai setinggi mana nilai diri anda.

Seperti kata-kata Hilal Asyraf, beliau menyatakan di dalam blognya, "Cinta tidak buta".

Martabat cinta begitu tinggi. Jangan rendahkannya sehingga menilai ia buta. Saya memberi contoh, jika anda mencintai seseorang kerana agamanya, adakah bila agama orang tersebut hilang selepas anda mencintainya, adakah anda akan terus mencintainya?

Namun, jika anda tidak menganggap cinta itu buta, anda mencintai seseorang kerana agamanya, maka cinta anda kepadanya akan bertambah dan berkurang sepertimana bertambah dan berkurangnya agamanya.

Atas dasar itu cinta kerana agamanya diperkuatkan lagi dengan hadis yang bermaksud:

"Apabila datang kepada kalian orang yang kalian redha agamanya dan akhlaknya (untuk meminang anda atau wanita dibawah tanggungan anda) maka nikahlahilah lelaki tersebut. Kalau kalian tidak melakukan hal tersebut nescaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan terjadi kerosakan yang merata".

[HR Tarmizi & Ibn Majjah]

Penutup

Niat saya menulis post ini adalah untuk menyedarkan orang yang saya cintai bahawa bukan cinta jika asasnya Facebook dan nilai diri anda wahai cintaku.

Saya mengharapkan juga dengan post ini saya dan anda menjadi lebih baik dari sebelum ini. Jika anda sudah terlajak bercinta di Facebook, maka cepat-cepat betulkan cinta anda.

Jangan cepat menjual maruah. Semoga post kali ini membuatkan anda dan saya lebih baik selepas ini bersama-sama mengejar redha Allah SWT dan cinta keranya-Nya. Insya Allah!


Monday, February 14, 2011

Berhenti Bercouple.

Salam...

Perkongsian dari persatuan Perdiqma..^^

Tentang Ber"couple"..

Ada orang yang dah berhenti bercouple. Saya, secara peribadi mengucapkan tahniah. Bukan mudah hendak mengikut arahan Allah SWT dengan mengenepikan kehendak nafsu diri. Saya, amat respect dengan orang yang berjaya ini.

Saya ketahui, masa-masa indah semasa bercouple pastinya membaluti hari-hari selepas meninggalkannya. Dulu bergayut-gayut dekat telefon, sekarang dah tak. Dulu keluar makan tengok wayang sesama, sekarang dah tak. Dulu sms-sms, sekarang dah tak. Jadi, mesti rasa ada kekurangan.

Artikel ini, saya tulis khas untuk anda yang telah berjaya meninggalkan couple, tetapi terbalut dengan 1001 perasaan yang mungkin membuatkan anda ingin kembali kepada perbuatan itu.

Bukan mengharamkan cinta

Persoalan-persoalan yang mencucuk mereka yang meninggalkan couple, mereka akan mengingat bahawa mereka ini mengharamkan cinta mereka. Ya, cinta mereka suci, ikhlas.

Di sini, ketahuilah bahawa, kita tidak mengharamkan cinta. Tidak salah menyukai lelaki atau perempuan. Cuma di sini, kita mahu jalan yang Allah redha. Bukannya kita break up. Kalau suka, betul-betul cinta, teruskan. Cuma teruskan di atas jalan yang Allah redha.

Sebenarnya, kalau betul-betul suka, cakap suka. Pergi confess pada mak ayahnya. Yang perempuan, minta lelakinya bergerak cepat sikit, bagitahu mak ayah.

Tunang dulu ke kalau rasa lambat lagi nak kahwin. Tunjukkan keseriusan anda.

Selepas tu, nak dating, sila la dating dengan keluarga. Bukan tak boleh. Keluarga lelaki, keluarga perempuan, pergi keluar makan sama-sama. Kalau rindu, pergi ziarah rumah. Cakap kat keluarga perempuan, kata nak datang. Yang perempuan, kalau rindu sangat, cucuk-cucuk la mak ayah suruh ziarah.

Tak ada masalah. Cinta bukan diharamkan. Teruskan. Sila teruskan. Cuma sekarang ni, kita nak cinta kita diredhai Allah. Kalau nak Allah redha, takkan kita nak calarkan cinta kita dengan perkara yang Allah murka? Islam ada bagi cara, kita guna cara yang Islam bagi.

Rindu sangat

Ini satu lagi fenomena biasa terjadi. Ya la, dulu hari-hari jumpa, ada event apa-apa mesti bersama. Mesti la ada memori-memori indah. Rindu ni lumrah orang berjauhan. Lagi rindu, lagi bertambah sayang. Tahan sikit je kalau serius nak kahwin. Dan macam saya cakap tadi, bukan tak boleh jumpa langsung. Ajak la keluarga ziarah ke, ajak keluarga keluar makan ke, atur la elok-elok. Bukan haram jumpa langsung.

“Rindu sangat ni, rindu sangat sampai nak jumpa dua-dua”

Aha… Best perasaan ni. Apa kata, kita tahan rindu kita dua tiga tahun, kemudian duduk la dua-dua sampai mati. Ah.. bukan sampai mati, maaf, sampai ke syurga, selama-lamanya. Ya la, bila kita bangunkan cinta kita atas apa yang Allah redha, pastinya kita akan mendorong diri kita dan pasangan kita ke syurga-Nya.

Susah-susah sangat, kahwin. Buat apa la tunggu lama-lama, main rindu-rindu jauh ni.

Kalau ada kekangan untuk berkahwin, sabar. Cuba selesaikan apa yang mengekang anda dari berkahwin itu. Sementara itu aturlah cara yang syara’ untuk berjumpa.

Tak ada masalah.

Ingat Allah

Ada orang, dia meluat kalau kita pesan kat dia supaya dia ingat Allah SWT.

Tapi saya nak kata apa? Kalau kita tinggalkan couple kerana Allah, nak dapat redha Allah, maka bila kita rasa nak kembali kepada couple, kita kena ingat Allah SWT yang menjadi matlamat kita meninggalkan couple tadi.

Allah ni, tak ada la zalim. Kita ni je yang zalim diri kita. Allah, Dia nak bagi kita sama-sama dengan pasangan kita sampai ke syurga, selama-lamanya bersama. Tapi, kita tak sabar, kita zalim pada diri kita, lantas kita dengan pasangan kita,paling lama pun sampai mati, kemudian di akhirat, terpisah-pisah. Apa best?

Allah halang kita dari dekati zina, bukan suka-suka. Kita dah nampak hari ini, lambakan anak luar nikah. Kita nak ke macam itu?

“Kami couple je bang, mana ada apa-apa”

Ya. Hari ini. Semalam. Esok siapa tahu? Kalau melintas jalan pun kena tengok kiri kanan takut dilanggar, berhati-hati, lagi la dalam hal masa hadapan dan kekeluargaan. Kena perhatikan semua benda. Tak kesian ke dengan baby? Ni bercinta betul ke, main-main?

Kena serius la

Nak istiqomah tinggal couple ni, selain melihat kembali niat kita, kita kena serius la tinggal tu. Nak serius tinggal, kita kena ada beberapa perkara lagi kita kena serius:

1. Serius nak dapat redha Allah.

2. Serius nak bercinta dengan betul.

3. Serius nak bina masa hadapan denganbaik.

4. Serius jaga maruah dan harga diri.

5. Serius segala perkara.

Saya rasa, kalau kita mendalami 1-5 ni, kita akan istiqomah untuk tidak bercouple, dan meninggalkan couple. Kalau serius la. Kalau tak serius, memang la kita nak buat.

Ya la, kalau serius nak dapat redha Allah, kenapa buat benda yang Allah tak suka?

Kalau serius nak cinta betul-betul, kenapa memurahkan cinta kita?

Kalau serius nak membina masa hadapan dengan baik, kenapa tak boleh berdisiplin dan bertahan sedikit?

Kalau serius nak menjaga maruah dan harga diri, kenapa kita pula macam promosi diri kita agar maruah dan harga diri kita tercalar?

Kalau lah kita ini serius dalam semua perkara, kita betul-betul nak hidup dengan baik, kenapa kita dedahkan diri kita dari kehancuran?

Jangan tunggu kita dah tersilap, baru kita nak cakap: “Aiseh, dulu ada dah orang tegur aku, kenapa aku tak dengar?”

Yang dah tinggal couple tu, tak payah kembali la. Fikir-fikir balik, anda sudah berjaya, kenapa anda hendak menggagalkan diri anda semula?

Kalau betul kita serius, kita akan usaha. Tak ada bagi alasan-alasan. Sebab itu, yang saya cakap dalam Bukan Mengharamkan Cinta, Rindu Sangat, dan Ingat Allah itu, hanya yang betul-betul serius sahaja yang boleh buat. Yang main-main, bye-bye la.

Penutup: Teruskan kejayaan anda

Bagi yang tak bercouple, atau dah tinggal couple, teruskan kejayaan anda. Bagi yang masih bercouple, tak mengapa, perlahan-lahan usaha tinggal. Jangan risau. Saya tidak menyisihkan anda. Cuma saya mengingatkan sahaja. Kita ni manusia, mana tahu apa nak jadi pada kita. Sebab itu orang pandai kata: Mencegah lebih baik dari mengubati. Cegah, penyakit tu tak kena pada kita. Mengubati, penyakit tu dah kena pada kita. Ada bezanya ya.

Fikir-fikir la. Couple ni asasnya apa? Cinta? Ya ke cinta? Ke lebih kepada seronok-seronok nak happy-happykan diri sendiri sahaja?

Bukan la tak couple maksudnya tak cinta. Cinta anda, tidak gagal dengan tidak bercouple.

Jangan susah hati. Kata nak redha Allah. Tahu tak bahawa, cinta tu, Allah yang cipta?

Aha…

Teruskan kejayaan anda. Kejar redha Allah dalam semua lapangan. Belajar, kerja, hatta cinta.

Kita nak, cinta kita ini pun Allah kira.




Saturday, February 5, 2011

My heart belongs to them

Salam...
aku pun tak taw bila mau tido ni, mata pun tak da la berat pun.
Jadi aku saje nak meringankan jari2 aku untuk menulis a.k.a menaip...haha

Bercerita pasal hati ni, mesti orang kaitkan dengan cinta, memang pown.
Hati aku ni hanya untuk mak ayah aku jer. Kalau cinta aku baik tahap dewa, mungkin kepada Allah.

Why hati aku kena cinta terhadap mak ayah aku?
Because aku tahu aku anak seorang yang nakal...dulu aku suke berpoya2...
Kini, aku sedar apa aku dah buat, lalu aku buat keputusan untuk bercinta dengan mak ayah aku...
haha, even mak ayah aku tengah bercinta antara satu sama lain, dorang kena paksa rela untuk curang dengan aku, kena jugak bercinta dengan dorang...weee~

Jadi secara rasminya dorang menjadi my heart aku...
Nanti bila aku nak buat dosa, aku mesti teringatkan mak ayah aku yang mengharapkan aku menjadi anak yang soleh. So, aku tak nak wat jahat! Aku tak nak curangkan cinta aku!

Mak aku...
Walaupun dirimu amat2 begitu garang untukku...
tapi dikau la penyebab aku tidak menjadi seorang anak yang liar...
tak menjadi pompuan yang bohsia, pelacur, pompuan yang senang2 jer lari dari rumah dan sebagainya...

Mak aku selalu bebel kat aku...haha..nakal kan? Ader masa mak aku boleh dibawa bergurau...ader masanya dia jadi "singa"...haha

Ayah aku...
Walaupun dikau seorang yang amat2 pendiam, tetapi dirimu seorang yang sangat pemurah...
Aku selalu paw duit dia...

Ader suatu hari yang membuatkan hati dan mata aku menangis(time nak taip ni dah start nangis) Masa tu aku form5, aku minta duit belanja dari ayah aku...time tu hujan lebat giler. Aku tunggu punya tunggu, ayah aku pun datang time hujan lebat giler. Sanggup giler time hujan lebat semata2 nak bagi aku duit. Basah baju dia. Perasaan aku time tu? Korang mesti ingat aku sedih kan? Tak! Aku happy betul masa ayah aku bagi duit belanja...aku tak terfikir pun, macam mana ayah aku dtg dengan sejuknya..(aku menangis)...jahatnya aku...time tu aku fikir duit belanja ja..

Suatu hari tu, masa aku kat rumah (still form5 masa ni), aku kena marah dengan mak sebab aku dah buat satu kesalahan yang mak aku tak suka...(biasala, garang kan...) mak aku membebel la, sambil bercerita yang ayah aku sanggup hantar aku duit belanja kat masa hujan lebat...mak aku kata kat aku, ayah aku balik rumah selepas anta duit untuk aku, mak aku tanya la naper baju basah2 ni? Ayah aku jawab la, nak hantar duit jer kat Nurul...pastu korang nak taw ayah wat aper pastu? Ayah aku pergi tukar baju baru pastu terus pegi kejer...time tu office hour dah tamat! Tapi ayah aku still nak pegi keje jugak walaupun dah tamat office hour! Sedihnyer, menggunakan tulang hanya 4 kerat, ayah aku nak berkerja jugak...selama ni aku tak terfikir pun apa jasa mak ayah aku buat...:(

Ya Allah, kau rahmatilah mereka, ampunkanlah dosa2 mereka selagi hayat mereka masih dikandung badan. Ampunkanlah aku dan keluarga aku..ya Allah, berikan lah mereka rahmat dari-Mu...aku sayangkan mereka sangat2...panjangkan la umurnya dan umurku serta adik2ku...jikalau Engkau ingin mengambil nyawa keluargaku, ambillah nyawa aku terlebih dahulu, aku tak sanggup jika dari kalangan keluargaku pergi terlebih dahulu...Engkau maha Pengasih, Memahami, dan Penyayang...Aminnnn



We Are Happy Family